Ari Amphibia: Fotografi adalah Melukis dengan Cahaya

Ari Amphibia, namanya tak asing lagi di dunia fotografi, lebih-lebih di kalangan fotografer landscape. Ia mulai berkecimpung di dunia fotografi sejak sekolah menengah pertama. Sejak menjadi tim dokumentasi di sekolah dan terus memotret sampai saat ini. Dari yang mulanya menggeluti dokumentasi dan foto event di masa pelajar, Ari Amphibia beralih ke fotografi landscape. Kegemarannya pada fotografi landscape ini, tak luput dari pengaruh teman-teman masa sekolahnya yang gemar naik gunung.

Hingga kini, kiprah Ari Amphibia di dunia fotografi, terutama fotografi landscape semakin luas. Pada 2015, ia bergabung dalam “X-Team”, fotografer sekaligus brand ambassador Fujifilm Indonesia. Ia juga menjadi brand ambassador beberapa produk fotografi, di antaranya Lowepro, Filter Haida, dan berbagai merk lain. Di samping memotret, Ari Amphibia aktif mengisi talkshow dan menjadi mentor workshop fotografi landscape di berbagai kota di Indonesia. Saya sendiri sudah lebih dari lima kali mengikuti workshop dan trip foto yang diisi dan dipimpin oleh Om Ari, panggilan Ari Amphibia.

Beberapa waktu lalu, saya menemui Ari Amphibia ketika acara instagram live bersama Fujiguys Indonesia di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Selama kurang lebih satu jam itu, Ari Amphibia membagikan kisah dan proses kreatifnya di bidang fotografi. Berikut wawancara saya dengan Om Ari, panggilan saya kepada Ari Amphibia, beberapa waktu lalu.

Bagaimana awalnya Om Ari masuk ke fotografi landscape?

Pertama kali memulai hobi fotografi itu pada saat aku SMP-SMA. Di SMP-SMA itu, aku selalu jadi seksi dokumentasi OSIS. Dulu nggak suka landscape, sukanya motret liputan.  Liputan kegiatan OSIS, perpisahan, studi tour. Dari situ aku senang, karena motret-motretin teman. Nah, terus, sempat vakum lama. Tapi, teman-teman SMP-SMA saya ini masih motret. Lulus SMA, lalu kuliah masih motret sebentar, terus berhenti lama sekali.

Sampai tahun 2009, baru ketemu lagi teman-teman SMP-SMA yang dulu. Mereka hobinya landscape, karena pada senang naik gunung. Pecinta alam dari SMP-SMA-nya. Ketemu lagi, lalu ikut-ikutan motret pemandangan, sampai sekarang. Tapi, di balik hobi saya landscape, saya masih melayani pemotretan liputan. Misalnya, Google, Youtube, dan TV event masih sering saya cover sampai sekarang.

Jadi, dulu ada event lari trail marathon. Biasanya, kan, di gunung. Nah, itu saya senang. Selain motret event itu, kan, saya bisa motret alam. Memang, pengaruh lingkungan dan teman-teman saya yang di SMP-SMA ini, sedikit banyak mengalihkan saya untuk memilih fotografi landscape. Belakangan, fotografi street saya juga suka. Tapi, tetap, landscape adalah passion saya yang pertama.

Kalau pindah ke Fujifilm sejak kapan? Gimana awalnya jadi brand ambassador Fujifilm?

Kurang lebih tahun 2013, saya punya teman yang selalu hunting bareng, namanya Ferdinand. Itu teman hunting dari mulai pertama kali motret. Terus dia punya kamera Fujifilm X-E1, itu tahun 2012-2013. Beberapa bulan kemudian, dia beli X-E2. Fujifilm X-E1-nya dijual ke saya. Saya ingat, dulu dijual harganya 13 juta. Waktu itu, saya masih pakai kamera DSLR full frame Canon 5D Mark II. DSLR saya pertama itu Canon 7D. Jadi, setelah saya vakum, tahun 2009 saya beli DSLR Canon APS-C 7D. Saya membeli karena cocok buat landscape, weather resist juga. Terus, ganti Mark II (Canon 5D Mark II).

Kemudian, tahun 2013, saya coba kamera X-E1 untuk motret cityscape, pemandangan kota, di Singapore. Saya terperangah banget dengan image quality-nya. Jauh dibandingkan dengan kamera DSLR saya. Ketajamannya, warnanya. Waktu itu, X-E1 dengan lensa kit 18-55mm. Saya masih ada foto itu sampai sekarang, foto yang bikin amaze. Udah pakai X-E1, terus saya jatuh cinta. Tapi, itu tetap kamera yang kedua.

Kemudian keluar X-T1, sektiar tahun 2014. Saya inden, tuh, di pameran Focus Nusantara di JCC. Saya inden juga lensa wide pertama Fujifilm, 10-24mm, karena sebelumnya nggak punya lensa wide. Udah, saya pakai. Tapi, untuk foto serius, waktu itu, saya tetap pakai DSLR. Tahun 2015 pakai Fujifilm X-T1 10-24mm, saya motret landscape. Kebetulan, pada saat itu, yang motret landscape pakai mirorless Fujifilm masih jarang. Waktu zaman X-E1, jarang banget. Saya pakai Instagram mulai tahun 2014, di Instagram, tuh, sepi banget hashtag-nya Fujifilm. Tahun 2015 akhir, kalau nggak salah, saya masuk sebagai X-team, salah satu fotografer X-team Fujifilm untuk kategori landscape. Nah, 2016 keluar X-T2. Pas keluar X-T2, saya yakin kalau mirorless bakal menggantikan peran DSLR. Jadi, setelah keluar X-T2, semua gear DSLR dijual.

Fujifilm X-T4 lensa Fujinon XF8-16mmF2.8 R LM WR | focal lenght 8mm | ISO 80 | aperture f/16 | shutter speed 1/40 s

Saat ini, dengan kecanggihan teknologi, kamera HP pun sudah bagus. Gimana pendapat, Om Ari?

Kalau saya, sih, melihat (kamera HP) belum bisa jadi substitusi kamera untuk fotografi serius. Tetap pilihannya kamera, sih. Kayaknya, kok, aneh banget gitu, lho, ngelandscape pakai handphone. Nggak dapat feel-nya kalau buat gua. Enaknya, kan, pakai kamera gitu, ya. Pakai handphone, terus pakai filter gitu, nggak ngena gitu buat gua. Ke depannya mungkin pasar kamera akan sedikit menyusut. Nggak bisa dipungkiri, memang pasarnya akan menyusut. Tapi, pasar kamera itu tetap ada. Karena bagaimanapun, kualitas kamera, untuk saat ini, nggak bisa digantikan handphone.

Om Ari, kan, pernah juara melukis, nih. Nah, kan, proses penggambaran imajinasinya hampir sama dengan foto. Pengaruhnya seperti apa?

Jadi, apa yang saya dapat itu mungkin ilmunya hampir sama. Ilmu tentang mengkomposisikan benda, barang, subyek, obyek, foreground, backgorund, warna, kontras gelap terang. Itu hampir sama dengan melukis. Hampir sama. Misalnya, saya mau menaruh warna hijau di background biru, dengan saya menaruh warna hijau di background kuning, kira-kira mana yang lebih enak dilihat. Nah, itu mungkin secara nggak langsung membentuk talenta. Menjadikan kita untuk mengenal kontras. Sedikit banyak. Nah, secara nggak sadar, selama bertahun-tahun kita belajar menggambar, tahu mana yang harus area gelap, mana area terang, di mana harus gradasi, di mana gelap.

Dan saya senang banget karena sekarang anak saya, saya nggak nyuruh dia foto, dia melukisnya “gila”. Lebih “gila” dari saya. Setiap pulang sekolah, bangun tidur, dia selalu pegang kertas buat melukis. Kertas itu nggak diwarnain, jadi cuma sketch. Sketch pakai pensil gelap-terang, gelap-terang. Nah, aku senang, karena dari kecil dia sudah memahami yang namanya kontras, gelap-terang. Nanti terserah dia, mau mendalami apa, fotografi apa melukis. Paling nggak, dia sudah tahu karena itu basic banget. Sebenarnya itu bisa didapatkan dengan cara belajar. Artinya, lebih baik kalau dari kecil sudah mengasah talentanya.

Kalau kita hitung mundur, di foto landscape sejak tahun 2009 sampai sekarang 2020.

Buat saya masih barulah. Masih banyak yang lebih lama dari saya. Tapi, ya itu, talenta kalau nggak diasah akan hilang feeling-nya. Kalau lo udah 20-30 tahun kenal dunia foto, tapi hanya melakukan fotografi satu bulan sekali, atau dua bulan sekali, atau kadang-kadang tiga bulan sekali, lo bakalan kebalap sama orang yang tiap minggu melakukan itu.

Kalau kecenderungan style di foto landscape-nya apa?

Tadinya saya lebih suka nature gitu ya. Tapi, lama-lama saya lebih fokus. Saya sekarang motret landscape itu lebih milih. Saya lebih spesifik. Sehingga, kalau datang ke suatu tempat kadang-kadang nggak dapat foto sama sekali, karena terlalu memilih. Semakin ke sini, saya semakin terlalu milih. Saya lebih suka balik ke ingatan masa kecil saya waktu melukis, ada gelap-terang. Nah, sekarang senengnya cari yang gelap-terang, gelap-terang gitu aja. Saya sudah nggak peduli lagi nature yang indah di mata. Kalau dilihat, sih, kayaknya foto-foto saya belakangan juga, kalau saya lihat, analisis, ya begitu.

Saya melihat fotonya Om Ari, tuh, secara komposisi beda gitu. How to be different, dengan adanya Instagram yang setiap hari orang upload foto dengan lokasi yang sama?

Kemarin kami pergi ke  Anyer. Aku bikin challenge foto dengan tema be different. Memang bagus banyak orang posting foto di Instagram tiap hari. Kita bisa lihat referensi foto dari spot-spot itu. Misalnya, spot Anyer kita lihat referensinya. Oh, begini semua fotonya. Kita punya gambaran kalau nanti ke situ, kira-kira kita mau ambil angle yang bagaimana supaya beda. Jadi, jangan ambil angle yang sama lagi. Ntar jadi ikut mainstream. Berani cari yang beda. Nggak usah pikir bagus atau tidak. Bagus jelek itu, kan, relatif. Tapi, buat beberapa orang, ternyata ada sesuatu hal baru yang ditampilkan. Tapi, emang harus be different. Pilih sesuatu yang beda.

Saya ingat, waktu saya juara melukis dulu, waktu SD kelas 6. Pas bel mulai perlombaan, saya nggak melukis. Saya bingung mau gambar apa. Semua peserta gambarnya bagus. Mereka gambar pemandangan, ada gunung, jalan, terus ada laut. Wah, bagus-bagus, warnanya bagus. Saya udah down dulu. Saya harus be different. Akhirnya, saya gambar pasar. Saya gambar jalan, lurus aja gitu. Terus pinggirnya toko-toko, pasar, ada kandang burungnya digantung segala macam. Komposisinya full, penuh. Jadi nggak ada kertas putih itu kelihatan. Di atas, yang kosong, saya isi awan dan burung, ada kandang burung menggantung. Pokoknya, saya ingin kelihatan beda dari orang. Dan, it’s work. Berhasil. Nah, pengalaman itulah yang menjadikan pejalaran buat saya untuk selalu beda. Dan ini saya pergunakan untuk keluar dari zona nyaman dalam mengambil foto. Jadi, ciptain sesuatu yang beda dari yang biasa lo lakuin.

Fujifilm X-T3 lensa Fujinon XF8-16mmF2.8 R LM WR | focal lenght 8mm | ISO 80 | aperture f/22 | shutter speed 120 s

Misalnya, mau motret sesuatu gitu, kadang divisualisasikan dulu nanti gambarnya akan seperti apa. Om Ari begitu juga?

Nggak. Saya lebih banyak dapat idenya di lokasi. Tapi, referensi foto udah dapat duluan. Tapi, kadang-kadang nggak dapat juga kalau saya nggak sempat lihat di Google. Wah, ini spotnya begini, orang-orang ngambilnya begini. Itu lebih bagus. Cuma, kadang-kadang justru bingung. Akhirnya, saya datang ke spot, tiba-tiba aja, ini kayaknya asik, nih, angle-nya. Tapi, yang paling utama buat saya, yang mungkin perlu diperhatikan teman-teman yang motret itu lighting. Kuncinnya itu sebenarnya. Fotografi, memotret, melukis dengan cahaya. Buat saya, awan cetar itu pelengkap aja. Kalau dikasih awan syukur, kalau nggak ya tetap memotret, selama ada cahaya.

Fotografer idola Om Ari?

Ada Gathot Subroto, Haryanto Devcom, Putra Johan, Adit PK, Bimo. Sebenarnya teman-teman yang di Fujifilm itu punya talenta dan kelebihan masing-masing. Mereka hebat-hebat. Juga banyak teman-teman X-user sendiri yang saya kagum. Terutama, anak-anak yang baru mulai foto, sekarang jauh banget perkembangannya. Saya tanya, “udah lama?” “Enggak, baru tahun kemarin mulai foto.” Mungkin karena informasi yang tersedia. Akses mereka gampang hari ini. Ada Instagram, banyak referensi. Jadi cepat banget berkembangnya. Terus teknik editingnya, mereka sekarang canggih-canggih. Tapi, ya, memang komposisi penting banget. Itu nggak bisa dipelajari satu dua tahun. Harus berlatih berulang-ulang sehingga komposisi itu menjadi karakter dari sebuah foto. Misalnya, karakternya fotonya Muji (pewawancara-red), langsung terbaca pas kita lihat fotonya. “Oh, fotonya Muji komposisinya begini, nih.”

Proses proses menemukan ciri khas itu seperti apa?

Emang saya ada ciri khasnya? Bisa nggak melihat ciri khas di foto-foto saya. Saya nggak tahu. Yang bisa menilai, kan, orang. Bisa nggak menilai. Nggak ya. Kelihatan nggak kalau itu foto saya.

Nggak, sih. Cuma memang secara visualisasi beda aja. Saya melihatnya berbeda.

Karena memang saya nggak pernah motret dengan menirukan gaya orang. Karena saya pengen selalu beda. Beda, beda, beda, lama-lama itu jadi karakter saya. Kalau orang ngambil (gaya) kayak gini, aku ngambil kayak gini. Gitu terus.

Fujifilm X-T2 lensa Fujinon XF50-140mmF2.8 R LM OIS WR | focal lenght 50mm | ISO 100 | aperture f/8 | shutter speed 1/25 s

Dulu sempat merasakan kamera analog juga? Selama berapa lama, Om?

Waktu SMP-SMA itu aja. SMP-nya waktu itu, kan, nggak berani kelas satu bawa kamera. Paling kelas dua. Canon AV-1 itu yang aku pakai sampai SMA. Sekarang juga masih ada kameranya.

Waktu itu berarti tiap habis motret langsung nyuci film?

Iya. Langsung nyuci (film). Ya, motretin teman-teman aja. Saya, kan, banyak banget foto teman-teman SMP-SMA. Dan itu hilang waktu rumah orang tua saya kena banjir. Dan itu rasanya, aduh! Foto saya bayi, foto-foto waktu saya bisa mulai motret, terus foto-foto teman SMP, SMA, kuliah, semua hilang. Wah, itu sedih banget! Waktu saya kuliah, karena selain hobi foto, saya hobi otomotif, saya motret mobil. Dulu saya seneng banget motret mobil. Foto-foto itu yang selamat. Yang sebelum itu udah hanyut sealbum-albumnya. Pengalaman itu bikin saya selalu menjaga storage file foto, data foto saya sampai sekarang. Saya kalau backup data nggak pernah satu, pasti dua. Kalau saya beli hardisk 2 terabyte, berarti harus dua backup. Selalu begitu.

Jadi pengalaman foto-foto yang hanyut kebanjiran itu pengalaman yang menyedihkan?

Wah, sedih, man. Itu nggak bisa dilupakan. Itu banjir tahun 2002. Mobil-mobil mengambang, di kelapa gading. Mobil, satu bulan kemudian bisa dibenerin. Hati, oke, sembuh. Foto? Nggak bisa. Jadi, jangan menganggap remeh masalah storage. Storage, hardisk, sekarang, kan, sudah zaman digital, itu krusial banget.

Kalau orang tua ada yang motret?

Nggak ada.

Dulu kenal foto dari dokumentator itu, Om?

Pertamanya itu saya waktu SD, ada orang berhutang sama orang tua. Nggak bisa bayar. Kameranya diambil. Itulah kamera Canon AV-1. Tapi, saya belum berani pakai. Karena dulu harganya mahal. Itu aja udah jutaan. Terus, SMP baru berani nyolong-nyolong bawa kamera. Tapi, bukan kamera itu, ada kamera satu lagi. Nah, pas kelas dua kelas tiga baru berani bawa (Canon AV-1). Nah, kenalnya dari situ.

Keinginan atau trip yang belum tercapai, ke mana?

Yang utama, sih, yang dekat dulu. Seluruh Indonesia saja belum. Penginnya seluruh provinsi di Indonesia. Karena Indonesia itu indah banget. Baru setelah itu, ke luar negeri. Ya, nggak muluk-muluk, sih, Iceland. Tapi, saya, sih, masih penasaran sama Indonesia. Indonesia cakep, man. Semuanya lengkap. Nggak habis dieksplore. Culture, nature, nggak ada duanya.

Fotografi landcape jadi pemasukan utama atau sekedar hobi?

Buat saya, fotografi landscape belum bisa dijadikan pegangan. Kalau passion yang lain, mungkin udah bisa. Kalau landscape buat saya, sih, belum bisa (jadi sumber penghasilan). Kebetulan saya wiraswasta, jadi banyak waktu luang atau waktunya bisa saya create sendiri. Mungkin, kalau saya jadi karyawan perusahaan agak sulit waktunya. Untungnya saya wiraswasta. Tapi, kadang mengganggu juga ke bisnis. Ya, pinter-pinteran kita bagi waktu aja.

Tapi, memang menurut saya, (fotografi landscape) belum bisa (jadi pemasukan). Bisa sih, mungkin buka photo tour, photo trip gitu, tapi semakin tua semakin keterbatasan tenaga. Capek. Ya, kalau waktu luang, terus pengen foto rame-rame, bikin (photo trip). Kita, kan, pernah berapa kali, tuh (satu trip). Sawarna, yang Lowepro itu, sama yang kemarin, ke Majalengka itu.  

Fujifilm X-E1 lensa Fujinon XF18-55mmF2.8-4 R LM OIS | focal lenght 18mm | ISO 800 | aperture f/6.4 | shutter speed 0.8 s

Perkembangan fotografi saat ini, terutama landscape, menurut Om Ari gimana? Instagram itu kemudian, kan, memicu orang untuk motret.

Iya. Jadi memang hebatnya atau yang bagus dari Instagram itu, salah satunya, dunia fotografi marak lagi. Banyak banget yang posting foto, banyak yang pengen menunjukkan eksistensi dirinya. Mereka berlomba-lomba untuk mendalami dunia fotografi, itu bagus. Kayak yang gue bilang, kan, orang baru belajar foto setahun saja, fotonya udah jauh berkembang. Bagus, sih, dengan adanya Instagram. Dulu, kan, paling cuma website. Sekarang, tiap orang bisa mengaktualisasikan dirinya lewat media sosial. Luar biasa dengan adanya Instagram. Anak-anak umur 17 tahun, 16 tahun, yang ikut coaching, SMP, SMA, itu foto-fotonya “gila”, lho.

Tapi, ya itu, kadang-kadang, ada hal-hal yang harus diperhatikan lagi. Mungkin masalah komposisi. Masalah esensi dari fotonya itu harus lebih digali lagi. Perlu jam terbang. Nah, nanti baru ketemu esensinya. Oh, ini yang pengen gue sampein ke orang-orang yang menikmati foto gue.

Nah, itu tadi hasil wawancara saya dengan Om Ari. Kamu masih penasaran dengan karya-karya Om Ari Amphibia? Coba buka website pribadinya di www.ariamphibia.id atau di akun Instagram-nya @ariamphibia. Di situ kamu akan menemukan beberapa foto keren dari Om Ari.

Hak cipta foto: Ari Amphibia.

Tulisan ini sebelumnya tayang di website Fujiguys Indonesia sebagai tulisan kontribusi. Saya tayangkan ulang di sini dengan beberapa penyesuaian.

Prev Pentingnya Tripod yang Kokoh untuk Memotret Landscape, Review Tripod Perspective PT-32C4

Leave a comment

Right click is disable. All photos and texts are copyrighted by respective owners. All rights reserved.