Fujifilm-Fujiguysid Xplore Sawarna 3, Trip Seru bersama Fujiguys Indonesia

Cahaya kuning kemerahan mulai membayang di langit timur. Saya berdiri berhadapan dengan batu karang yang tinggi menjulang. Di depan saya, kaki-kaki tripod terendam air laut, menancap kokoh di pasir pantai. Di pucuknya bertengger kamera Fujifilm X-T100 yang saya beli lebih dari setahun yang lalu.

Saya tidak berdiri sendirian di kegelapan pagi itu. Di kanan dan kiri saya, para fotografer dari komunitas Fujiguys Indonesia berdiri berjajar dengan kamera dan tripod masing-masing. Cahaya senter yang kami bawa berkilatan memantul di air dan menciptakan bayangan benda-benda di hadapan kami. Kami, fotografer yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang ditambah ojek masing-masing, seperti satu regu tentara yang ingin merubuhkan raksasa. Raksasa batu karang yang sedaang kami hadapi.

Tetapi tidak, kami tak hendak merubuhkan batu karang itu. Kami, dengan senjata-senjata yang  kami miliki, justru ingin merekam keindahannya di bawah langit merah di timur sana.

Batu karang yang memancang di depan saya adalah ikon pantai tempat saya sekarang berdiri. Karang ini sekaligus tengara nama pantai ini: Pantai Tanjung Layar.  Ada banyak mitos dan legenda yang berkembang mengenai asal-usul batuan karang ini. Ada yang berkisah dua karang raksasa ini adalah layar kapal Sangkuriang yang ia lemparkan d ari Tangkuban Perahu. Ada pula yang menyebut di batu karang ini bersemayam seekor naga. Di luar semua itu, yang pasti, batu karang ini adalah salah satu daya tarik Pantai Tanjung Karang.

Saya baru menjejakkan kaki di Sawarna beberapa jam yang lalu, setelah menempuh jarak lebih dari tujuh jam dari Jakarta. Kami memulai perjalanan kemarin sore selepas magrib, menyusuri jalanan yang membuat saya tidak bisa lelap karena naik turun dan berkelok-kelok. Sebentar-sebentar saya terbangun karena badan saya oleng ke kiri dan ke kanan.

Pantai Tanjung Layar | X-T100 Fujinon XF10-24mm at 11mm ISO 200 F11 30 second

Ini adalah pagi pertama saya dalam rangkaian perjalanan “Fujiguys Indonesia Xplore Sawarna 3”. Dalam kurun tiga tahun terakhir, Fujiguys Indonesia telah mengadakan trip tiga kali ke Sawarna. Dan ini adalah kali pertama saya bergabung dengan trip untuk memotret bersama Fujiguys Indonesia.

Fujiguys Indonesia merupakan komunitas para fotografer pengguna kamera Fujifilm dari berbagai jenis dan tipe. Dalam usianya yang keempat, Fujiguys Indonesia telah mengadakan berbagai kegiatan mulai dari workshop, hunting bersama, hingga sharing bersama. Anggota komunitas ini berasa dari berbagai daerah di Indonesia. Malah, beberapa kota sudah mempunyai komunitas Fujiguys lokal tempat mereka bergabung, misalnya Palembang, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan kota yang lain.

Bukan itu saja, di komunitas ini anggota juga bisa bergabung ke masing-masing grup sesuai dengan ketertarikan masing-masing. Ada grup portrait; street; toys, food dan makro; videografi, dan fotografi landscape.

Langit timur mulai memerah. Saya bersyukur, tampaknya pagi ini akan cerah, meskipun kami melakukan perjalanan di musim hujan. Pertengahan Juli lalu, dalam kunjungan saya ke pantai ini, saya hanya membawa pulang foto-foto dengan warna langit yang tidak beragam.

Saya mulai mengambil beberapa foto, mengatur komposisi, dan berpindah-pindah ke untuk mencari sudut pandang yang lain. Begitu pun dengan teman-teman yang lain. Sementara tukang ojek yang sekaligus menjadi porter dan pemandu kami, terus menguntit ke mana pun kami melangkah.

Saya pernah menulis beberapa pantai indah di Desa Wisata Sawarna ini beberapa waktu lalu. Agaknya tak berlebihan ketika saya menyebut Sawarna ibarat surga di selatan Pulau Jawa. Betapa tidak, pantai-pantai di sekitar Sawarna memiliki kekayaan dan keunikan yang tak akan habis kami jelajahi dan rekam dalam gambar.

Matahari tampak muncul dari balik karang. Warna keemasan berpadu dengan biru membetang sepanjang langit timur. Sinar matahari menyiram batu-batu karang yang berkilat karena basah. Sisa-sisa air laut yang  menggenang di sepanjang pantai berkilauan terpapar sinar mentari sekaligus memantulkan langit yang warna-warni.

Sepanjang pantai Tanjung Layar, seluas mata memandang, saya hanya menemukan bebatuan karang. Di sebelah selatan berdiri memanjang seperti tembok pembatas antara pantai dan laut dalam. Ombak berdebur berturut-turut menabrak ombak. Teman-teman juru kamera yang lain sudah menyebar ke berbagai arah di sepanjang pantai. Mencari obyek foto yang mereka sukai. Saya pun terus bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain di sekeliling Pantai Tajung Layar.

Matahari semakin tinggi meninggalkan cakrawala. Sinarnya terlalu keras memantul di benda-benda yang kami foto. Kaki saya mulai pegal karena sedari tadi mondar-mandir di sepanjang pantai. Sebagian teman sudah menyudahi kegiatan memotretnya. Sementara sebagian lainnya masih berjuang di depan ombak yang menghantam batu karang. Saya berbalik menuju tepi pantai, agaknya saya kali ini lebih tertarik dengan nasi goreng daripada ombak laut selatan.

Pantai Karang Taraje | X-T100 Fujinon XF10-24 mm at 10 mm ISO 200 F11 1 second

Kami melaju kembali ke jalanan yang membelah Desa Sawarna. Masing-masing dari kamu sudah mendapat jatah ojek yang sekaligus menjadi pemandu dan pengawas kami ketika di pantai. Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Karang Bokor, sebuah pantai tersembunyi yang berada di tepi hutan milik Perhutani.

Rupanya pintu masuk yang kami lalui berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya, ketika kunjungan  pertama saya. Pantai ini sedang dalam pembenahan dan  pembangunan. Jalan menuju pantai yang curam itu kini sudah membentang lebih lebar. Kondisi pantai pun kini sudah berbeda dari beberapa bulan silam. Sebuah jembatan dari kayu menghampar dari ujung pantai ke ujung yang lain.

Tak ingin menyiakan waktu, kami turun mendekat ke air laut yang menggelora. Di depan sana, tampak batu karang  yang seperti pasak menancap di dasar laut. Sementara angin berhembus dari selatan, membawa ombak besar yang seakan tak pernah puas menabraknya. Saya mulai memasang tripod, menyetel kamera, filter, lalu segera tenggelam dalam aktivitas saya memotret.

Beberapa kali suara komando dari belakang memperingatkan kami untuk tidak terlalu dekat dengan tepi laut. Memang ombak di pantai ini tidak bisa dianggap remeh. Sekali lengah, kita bisa tewas tersapu ombak yang ganas. Untung saja tukang ojek yang membawa kami bisa sekaligus menjadi pendamping. Mereka adalah orang-orang pesisir yang paham bagaimana membaca laut dan ombak.

Langit tampak kebiruan seperti warna laut yang memantul ke langit. Gelombang laut masih terus berjuang menggapai daratan. Makin tinggi karena air laut makin pasang. Beberapa teman sudah mentas ke daratan. Beberapa yang lain masih asyik bermain dengan ombak. Menciptakan gambar-gambar surealis yang menggabungkan gerakan air laut, bebatuan karang, dan warna biru langit.

Kami sampai kembali di penginapan, ketika sinar matahari panas terik. Siang hari adalah waktunya kami, para fotogragfer landscape, jeda. Ini adalah waktunya istirahat dan makan siang, bukan memotret. Masih ada beberapa jam ke depan untuk menebus waktu tidur yang tersita tadi malam.

Pantai Karang Bokor | X-T100 Fujinon XF10-24 mm at 23 mm ISO 200 F11 3 second

Sang surya mulai beranjak dari tengah langit. Saya mulai kembali mengemas peralatan, bersiap menuju destinasi kegiatan kami selanjutnya, yaitu Panti Karang Songsong.

Panti Karang Songsong terletak di Desa Cibobos, jauh ke arah barat dari Desa Sawarna. Berbeda dengan Pantai Tanjung Layar yang hampir seluruh permukaan pantai adalah bebatuan, Pantai Karang Songsong merupakan kombinasi antara pasir dan gugusan batu karang. Gugusan bebatuan karang terletak menjorok ke laut. Dari arah daratan, bebatuan karang ini tampak muncul sebagian ke permukaan. Berbaris-baris seolah menghadang ombak besar dari tengah laut.

Kami akan melewatkan senja di pantai ini. Merekam keindahan gugusan karang dan sinar mentari yang turun ke peraduan. Kami berharap langit akan penuh warna sebagaimana pagi yang telah kami lewati.

Namun, mendung kelabu mengapung di cakrawala, ketika kaki kami menyentuh pasir pantai ini. Awan kelabu itu tak juga beranjak hingga matahari mulai surut. Toh, kami tetap memotret. Kami menghambur di seputar pantai seperti biasa, memburu benda-benda yang menurut kami menarik untuk dipotret.

Pantai Karang Songsong | X-T100 Fujinon XF55-200 mm at 55 mm ISO 200 F11 30 second

Pukul tiga dini hari, alarm membangunkan saya. Rasanya tidur saya belum jenak. Mata saya masih berat untuk membuka. Saya mesti berjuang untuk bangkit dan bersiap memotret matahari terbit pagi ini.

Jadwal dari panitia pagi itu adalah memotret di Karang Taraje dan Karang Bereum. Adzan subuh baru berkumbandang ketika saya sudah di tengah perjalanan. Gelap masih menyelimuti sepanjang pantai Karang Taraje. Pantai ini agaknya tidak terlalu banyak fasilitas. Hanya satu rumah yang entah untuk apa, berdiri  tepi pantai. Daun-daun pohon nyiur berkelebatan diterpa angin laut di bawah keremangan langit subuh.

Pantai Karang Taraje adalah pantai yang juga dominan berlapis batu karang. Bebatuan karang yang sebagian besar tertutup lumut tampak menghampar di sepanjang pantai. Hanya bebatuan dan lumut hijau yang terlihat sejauh mata memandang.

Langit di timur mulai terbuka. Warnanya merah. Kami tak menyia-nyiakan waktu untuk segera mengekalkan keelokannya. Kemudian, hingga beberapa waktu berikutnya,  kami larut dengan kegiatan kami. Memasang tripod dan kamera, menyetel pengaturan yang pas, memasang filter, mengganti lensa, mencari komposisi yang pas, dan tentu saja, memencet tombol rana.

Dan saya baru menyadari, setelah langit sepenuhnya terbuka, tampak beberapa nelayan berdiri di pinggir laut. Mereka adalah nelayan tradisional yang sedang menebar peruntungan dengan memancing ikan dan lobster. Ada juga beberapa nelayan yang mengapung di atas pelampung dari ban truk. Ombak samudra selatan yang besar membuat mereka terayun-ayun di atas pelampung. Selain pariwisata, kekayan laut di sepanjang Desa Sawarna telah menghidupi mereka selama bertahun-tahun. Meskipun, mereka memetik hasil laut itu dengan cara-cara tradisional.

Begitu pun kami bisa menikmati hidangan laut untuk makan malam tadi malam. Dan tak jarang para nelayan ini juga menawarkan tangkapannya kepada para wisatawan. Untuk mendapatkan satu kilogram lobster hidup, kami bisa menebus dengan uang antara seratus hingga seratus tiga puluh ribu rupiah.

Saya tidak tahu apakah saya bisa kembali menikmati lobster dengan gampang, ketika wacana ekspor bibit lobster lewat jalur resmi menjadi kenyataan. Sebab, sepertinya makin banyak orang yang akan mengejar untung cepat daripada menunggu udang laut ini besar di alamnya. Yah, semoga saja tidak begitu. Semoga kekayaan laut kita terjaga dari sifat rakusnya manusia.

Bekas gigitan nyamuk pantai yang sedari tadi tidak saya hiraukan, kini benar-benar mulai terasa gatal. Rupanya nyamuk pesisir ini lebih galak dibanding nyamuk yang biasa menggigit saya di tengah daratan. Saya menggaruk-garuk dan beberapa kali mengibaskan kaki. Bintik-bintik merah merata di sepanjang kaki yang terbuka. Sementara di sisi timur, sinar matahari makin terang menyapu permukaan lumut yang seperti permadani hijau.

Panggilan dari seberang daratan memaksa kami menyudahi aktivitas kami. Ini adalah sesi terakhir kami memotret di Sawarna dan kami tak ingin kembali ke Jakarta terlalu siang.

Acara makan siang dan “upacara” resmi dari panitia menutup kegiatan trip Fujiguys Indonesia di Sawarna kali ini. Kami menyelesaikan perjalanan ini dengan riang dan penuh gelak tawa. Saya sendiri memperoleh banyak hal dari perjalanan ini. Bukan hanya kembali bertemu dengan beberapa teman lama dan baru, namun juga memperoleh banyak ilmu dari para senior dalam fotografi. Saya sudah duduk kembali di bus yang membawa saya ke pesisir selatan Jawa ini. Kendaraan kami menderu membelah jalan raya Kabupaten Lebak, membelakangi Desa Sawarna yang makin  jauh. Beberapa jam lagi, kami akan tenggelam dalam hiruk pikuk Jakarta. Dalam hati saya berbisik, Sawarna, suatu ketika, entah kapan, saya akan kembali merekam keindahannya.

Sumber Foto utama: Fujiguys Indonesia

Prev Omahku Memoriku, Museum Mini Mengenang Erupsi Merapi
Next Terasering Bukit Panyaweuyan Argapura, Potret Kemolekan Alam Majalengka

Leave a comment

Right click is disable. All photos and texts are copyrighted by respective owners. All rights reserved.