Panas matahari serasa memanggang Kota Bandung siang itu. Saya berjalan menjauhi pintu keluar stasiun, mencari tempat yang nyaman untuk menunggu ojek daring. Kini saya berdiri di depan sebuah hotel, beberapa puluh meter dari stasiun. Debu-debu menyembur bersama udara yang dihembuskan lalu lalang kendaraan. Polusi siang itu diciptakan oleh udara musim kemarau bercampur debu dari tanah bekas galian di pinggir jalan.

Kendaraan yang saya pesan tiba. Saya meluncur ke alamat yang saya tulis di aplikasi: Toko Kamera Focus Nusantara. Tujuan saya ke sini adalah untuk bergabung di acara “Focus Nusantara Hunting Trip, Explore Pangalengan with Ari Amphibia”. Ini adalah acara ke sekian puluh/ratus kali yang dihelat toko kamera yang punya cabang di Jakarta dan Bandung ini. Namun, ini adalah acara hunting trip pertama yang saya ikuti. Acara tersebut merupakan Kerjasama Focus Nusantara dengan Fujifilm Indonesia. Hunting trip ini memang dikhususkan bagi mereka yang menggunakan kamera Fujifilm.

Bersama lebih dari 20 orang yang lain, akhir pekan itu saya belajar tentang teknik memotret lanskap. Mentornya Ari Amphibia, seorang fotografer lanskap yang juga merupakan duta merek kamera Fujifilm. Tentu saja saya sangat antusias dengan acara ini. Terutama, saya banyak mendapat ilmu dari mereka yang sudah lama terjun di fotografi lanskap dan paham seluk beluk kamera Fujifilm.


[Lanskap lereng bukit di perkebunan Cukul. Camera Fujifilm XT100 lensa 50-230 | 85mm | ISO 200 | F8 | Shutter speed 1/640s]

Peluh membasahi kulit, ketika saya tiba di pelataran Gedung Jonas. Di sinilah Focus Nusantara berada di antara toko kamera dan layanan fotografi lainnya. Kejengkelan saya sebab sopir ojeg yang tidak tahu jalan, langsung luruh begitu melihat satpam menyambut di depan pintu. Segera saya melakukan daftar ulang dan berkenalan dengan peserta yang lain. Saya, yang pada dasarnya suka berburu foto sendiri, sedikit canggung berkenalan. Terlebih, dari penampakannya, calon teman seperjalanan saya ini adalah orang-orang yang sudah mapan. Jujur, saya minder.

Saya memang jarang melakukan hunting foto bersama banyak orang. Mungkin, pada dasarnya saya adalah orang yang lebih nyaman berada dalam kelompok kecil. Bahkan, saya lebih sering melakukan perjalan sendiri untuk memotret. Barangkali, ini serupa dengan perjalanan sendiri yang juga kerap saya lakukan. Bahwa saya tidak terlalu terikat dengan orang lain. Bahwa saya, misalnya, bisa menyudahi kegiatan motret kapan saja untuk melakukan ibadah ketika matahari lenyap di langit barat. Namun, sebenarnya memotret sendirian bukan berarti saya menghindari orang lain. Justru di tempat di mana saya memotret sendirianlah, saya bertemu fotografer lain kemudian berkenalan dan saling mengikuti di Instagram.


[Seorang nelayan menaring ikan di Situ Cileunca. Camera Fujifilm XT100 lensa 18-55 | 41mm | ISO 250 | F4.5 | Shutter speed 1/3000s]

Bus yang saya tumpangi melaju lambat ke arah selatan begitu keluar dari tol Soreang-Pasir Koja. Jalanan yang tidak terlalu luas membuat bus kami harus bersabar, berbagi ruang dengan kendaraan lain. Beberapa kali bus kami harus berjalan pelan di antara berbagai jenis kendaraan yang berbaris puluhan meter. Ini adalah perjalanan kedua saya ke Pangalengan. Saya ingat perjalanan saya sebelumnya. Tiga jam lebih saya duduk di bus jurusan Bandung-Pangalengan, ke arah yang saya belum pernah tahu sebelumnya, di antara orang-orang dengan bahasa yang hanya saya mengerti beberapa kata.


[Seorang nelayan menaring ikan di Situ Cileunca. Camera Fujifilm XT100 lensa 18-55 | 41mm | ISO 250 | F4.5 | Shutter speed 1/3000s]
[Pertama kali memotret milky way. Camera Fujifilm XT100 lensa 18-55 | 18mm | ISO 2500 | F2.8 | Shutter speed 30s]

Kala itu, saya sama sekali belum tahu seperti apa itu daerah yang saya tuju. Hanya berbekal duduk di atas bus bertuliskan Bandung-Pangalengan serta GPS dan titik yang bergerak di peta Google di ponsel. Saya masih ingat, betapa cemas saya ketika bus itu tiba-tiba berhenti di sebuah pasar, lalu sopir dan sebagian penumpang turun. Kecemasan saya reda setelah tahu bus itu hanya istirahat untuk menunggu penumpang yang lain! Saya menyadari, sejak bus yang saya naiki mengitari jalanan Kota Bandung, bus itu seperti seorang renta yang malas berjalan. Seperti dagangan yang tidak laku-laku, sementara penjualnya berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Barangkali inilah kondisi umum angkutan dengan trayek yang sepi peminat.

Di perjalan saya yang kedua ini, saya jauh merasa lebih baik dari perjalanan sebelumnya, meski kondisi jalanan tidak banyak berubah.

Lepas dari daerah Cimaung, jalanan mulai berkelok-kelok. Kanan kiri terlihat puncak-puncak bukit dan lembah-lembah menghijau. Ini adalah pemandangan khas wilayah Bandung selatan. Wilayah yang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Di sebelah barat sana, segaris dengan daerah Cimaung ke selatan hingga ke Pangalengan, juga terdapat kawasan wisata, yaitu Rancabali, kawasan wisata Ranca Upas, Kawah Putih dan Situ Patenggang.

Sementara Pangalengan adalah sebuah kecamatan dengan pesona wisata alam yang lain. Dua di antaranya adalah Situ Cileunca dan Sunrise Point Cukul yang akan kami rekam keindahannya. Dua destinasi wisata ini sudah terkenal di antara para penggemar fotografi pemandangan. Bahkan, tempat ini tak pernah sepi pengunjung, terutama setiap akhir pekan. Sunrise Point Cukul adalah sebuah bukit perkebunan teh di wilayah PTPN VIII. Dari bukit ini, di bawah sana, terlihat lereng bukit lain dengan warna hijau daun teh menghampar. Kabut akan menyelimuti hamparan pucuk daun-daun teh di pagi hari, sementara matahari muncul di atas puncak bukitnya.


[Mentari pagi menyibat kabut di atas hamparan kebun teh. Camera Fujifilm XT100 lensa 50-230 | 85mm | ISO 200 | F10 | Shutter speed 1/60s]

Begitu tiba di Pangalengan, setelah singgah di vila untuk menaruh barang, kami langsung menuju Situ Cileunca. Matahari mulai turun di ufuk barat. Cahayanya yang lembut memantul di danau dan daun-daun. Sore itu kami memotret dengan konsep nelayan yang sedang menjaring ikan. Lelaki di atas rakit itu melempar dan menarik jarring beberapa kali seiring aba-aba dari panitia. Kemudian pada malam harinya, kami melanjutkan memotret milky way yang membujur ke bawah di langit atas Jembatan Cinta Situ Cileunca. Lepas magrib, udara dingin mulai menusuk kulit. Saya yang sedari siang tidak memakai jaket menggigil beberapa kali. Namun, begitu melihat bertebaran bintang di langit, gigil itu segera hilang. Kami semua semangat memotret dengan panduan Om Ari Amphibia. Beberapa kali suara gerakan rana kamera kami terdengar bersamaan, beberapa kali terdengarseperti bersahut-sahutan.


[Cahaya matahari membentuk garis-garis. Camera Fujifilm XT100 lensa 50-230 | 95mm | ISO 200 | F8 | Shutter speed 1/640s]

Rasa baru beberapa detik saya tertidur, ketika saya terhenyak bangun. Saya lihat jam di ponsel saya, sudah pukul tiga pagi. Hampir sebagian besar peserta photo trip sudah bangun dan mulai bersiap. Saya langsung melonjak bangun karena jam tiga dini hari ini adalah jadwal kami berangkat ke Cukul.

Kami menuju ke Cukul dengan mata yang berat. Dingin udara pegunungan berusaha menyusup ke balik jaket yang saya kenakan. Sepanjang jalan, memandang ke kejauhan dari jendela, yang terlihat hanya gelap. Di kesempatan lain, waktu ini merupakan waktu di mana saya tidur lelap. Sementara hari ini, kami berjuang bersama melawan kantuk, berjalan dalam gelap menuju puncak bukit, dan disergap hawa dingin. Barangkali, ini yang tidak disadari banyak orang ketika melihat foto yang indah, bahwa untuk mendapatkan keindahan itu, butuh perjuangan yang tidak mudah.


[Kabut menyelimuti dedaunan dan pohon-pohon. Camera Fujifilm XT100 lensa 50-230 | 205mm | ISO 200 | F10 | Shutter speed 1/30s]

Sayangnya, saya baru menyadari setelah sampai di Jakarta, sebagian besar foto saya di Cukul terhapus. Sepertinya saya terlalu bersemangat ketika menghapus foto yang blur, sehingga tidak sengaja menghapus foto yang lain. Saya sedikit kecewa dengan kecerobohan saya. Tapi, meskipun saya tidak membawa pulang banyak foto, pesona Pangalengan akhir pekan itu terus melekat di ingatan.


[Mentari pagi menyibat kabut di atas hamparan kebun teh. Camera Fujifilm XT100 lensa 50-230 | 144mm | ISO 200 | F10 | Shutter speed 1/10s]

Dengan penerangan senter seadanya, saya segera memasang tripod. Kami berbaris berjajar dari utara ke selatan menghadap ke bukit di mana matahari akan muncul. Kami segera sibuk dengan kamera dan tripod masing-masing. Memencet tombol pengaturan, memasang peralatan, memutar roda dial ke kanan atau kiri, melepas dan memasang lensa, memutar lensa ke kanan dan ke kiri, mengarahkan kamera ke sana kemari, dan memencet shutter. Sejak cahaya di langit timur belum muncul, sampai sinar matahari mulai terang. Ini adalah sesi memotret terakhir dari perjalanan kami sejak Sabtu siang. Selanjutnya kami akan pulang ke rumah masing-masing dengan gambar yang kami peroleh.

You Might Also Like

Enter Your Comments Here..