Di sini, saya kembali merasakan kecemasan itu. Merasakan kepanikan orang-orang yang berlarian ke sana kemari. Sementara asap putih tebal mengepul dari puncak gunung, membubung ke angkasa, terbang bersama angin hingga ke tempat yang jauh, lalu hinggap di mana saja. Asap kelabu pekat itu memedihkan mata dan menyesakkan dada. Asap tebal itu adalah butir-butir debu abu vulkanik yang meledak dari perut gunung. Sementara itu, di tengah kekalutan yang melanda, suara gemuruh terus terdengar. Suara gemuruh dari perut bumi.

Merapi tak pernah ingkar janji.

Rangka sapi yang meleleh terkena semburan awan panas Merapi pada erupsi tahun 2010.

Saya berdiri ketika terik mentari membakar lereng Gunung Merapi, menghadap reruntuhan dan puing-puing sisa erupsi gunung yang hingga sekarang masih aktif. Benda-benda yang menandakan adanya kehidupan masyarakat di tempat ini, berjajar-jajar seluas mata memandang. Motor yang hancur terpanggang panas, peralatan rumah tangga yang meleleh, kursi meja yang compang-camping, dan berbagai barang lainnya. Barang-barang ini adalah saksi bisu janji Merapi, bahwa gunung ini masih hidup dan setiap saat bisa erupsi. Puing-puing di tempat  saya berdiri seperti memang hendak mentahbiskan dirinya sebagai sebuah ingatan, sebagaimana tertera pada sebuah papan di halaman rumah ini: Omahku Memoriku.

Omahku Memoriku adalah sebuah museum untuk mengenang erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010. Museum ini berada di wilayah Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Dusun ini berjarak hanya tujuh kilometer dari puncak Merapi. Jarak yang sangat tidak aman untuk sebuah erupsi besar.

Sejarah mencatat, letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 adalah letusan yang paling besar selama kurun satu abad. Selasa, 26 Oktober, awan panas, yang masyarakat sekitar menyebut wedhus gembel, menyerbu permukiman warga dengan membawa panas hingga 600 derajat celcius. Wedhus gembel ini membakar dan melehkan apa pun yang menghalanginya.

Erupsi tahun ini, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menelan korban jiwa hingga 341 orang dan 368 orang luka-luka. Sementara kerugian materiil mencapai Rp 4,23 triliun. Sepanjang catatan sejarah, Gunung Merapi sudah beberapa kali meletus. Bahkan, dalam skala yang kecil, erupsi Merapi bisa terjadi tanpa kenal waktu. Letusan-letusan kecil biasanya terjadi dalam kurun dua hingga empat tahun, sementara letusan besar terjadi antara 10 hingga 15 tahun. Beberapa letusan besar Merapi, memberikan dampak yang juga besar. Misanya, letusan Merapi pada tahun 1006 sampai-sampai mengubur Candi Prambanan dan Borobudur (Tirto.id).

Berpose di depan Museum Omahku Memoriku sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Saya menyusuri ruangan demi ruangan. Memperhatikan dengan seksama benda-benda yang kini menjadi semacam penanda sejarah. Sopir Willys yang sekaligus menjadi pemandu rombongan kami, menjelaskan ihwal benda yang meleleh dan gambar-gambar peristiwa erupsi yang tergantung di dinding. Saya menguntit pemandu ini ke mana pun ia melangkah demi mendengarkan penjelasannya, sembari mengabadikan benda-benda di museum ini dengan kamera.

Sisa abu vulkanik Merapi pada erupsi 2010 yang terkumpul di sebuah ruangan

Museum Omahku Memoriku menempati bekas rumah Sarsuwadji, seorang pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Rumah yang sekarang menjadi museum ini, menghadap ke selatan, ke arah jalan raya. Di belakang museum, kita bisa melihat puncak Gunung Merapi yang rumpang karena erupsi enam tahun silam. Garis-garis bekas mengalirnya lava pijar terlihat jelas, membentuk jurang-jurang dan aliran sungai yang mengarah ke Kali Gendol. Kabut putih menyelimuti puncak gunung ini, sementara asap tipis sesekali mengepul dari kepundan.

Bekas rumah Sarsuwadji ini berada di pusat Dusun Petung, yang ketika masih berpenghuni sering menjadi pusat kegiatan warga. Di sebelah utaranya, berjarak 300 meter, terdapat museum erupsi Merapi tahun 2010 yang lain. Museum ini bernama Museum Sisa Hartaku, berada di bekas rumah Sriyanto. Museum ini juga berisi benda-benda yang tersisa dari letusan besar Merapi. Saat ini, kawasan Dusun Petung masuk dalam kawasan rawan bencana 3 berdasarkan Perda Nomor 12 tahun 2010. Kawasan ini berjarak 7 kilometer dari puncak Gunung Merapi yang harus bebas dari permukiman warga.

Kunjungan saya beserta rombongan ke Museum Omahku Memoriku dan Museum Sisa Hartaku adalah bagian dari rangkaian lava tour yang saat ini menjadi salah satu destinasi wisata dan aktivitas wisata di Yogkarta. Erupsi beberapa tahun lalu, meskipun sampai menelan banyak korban, menjadi berkah bagi penduduk sekitar Merapi. Sawah yang kian subur, penambangan pasir dan pariwisata yang menggeliat adalah bentuk lain kasih sayang Merapi pada penduduk sekitarnya.

Lava tour adalah kegiatan wisata di sekitar Merapi dengan menyusuri bekas aliran lahar dingin dan menyaksikan sisa-sisa erupsi beberapa tahun silam, mulai dari museum hingga Bunker Kaliadem. Ada 3 rute dalam lava tour Merapi ini, yaitu rute pendek (short trip) dengan durasi 1 hingga 1,5 jam, rute menengah (medium trip) dengan perjalanan 2 jam, dan rute panjang (long trip) dengan durasi hingga 2.5 jam. Dalam kunjungan ini, rombongan kami memilih rute yang kedua, yaitu rute medium trip dengan rute kami mulai dari Kaliurang, kemudian menyusuri jalanan di Desa Pangukrejo, mengunjungi museum Omahku Memoriku dan Museum Sisa Hartaku, mengunjungi batu alien dan berakhir di Kali Kuning.

Batu yang terlempar dari puncak Merapi

Kami memulai petualangan ini dari Kaliurang mengendarai mobil jip yang berisi empat orang. Menyusuri jalanan beraspal yang berkelok-kelok dan berakhir di jalanan berbatu dan berpasir. Sepanjang perjalanan, saya memegang erat besi yang melintang di belakang kemudi. Tampaknya sopir jip sengaja memilih jalan yang ekstrem dan melakukan berbagai manuver untuk membuat tubuh kami terguncang dan terlempar ke sana kemari. Debu tebal mengepul setiap kali ban mobil di depan kami menggerus pasir. Saya, yang waktu itu tidak membawa masker dan kacamata, terpaksa beberapa kali memejam dan menutup hidung dengan kaos.

Museum Omahku Memoriku tidak menetapkan tarif tertentu maupun retribusi untuk setiap pengunjung. Artinya, pengelolaan museum ini bukan komersil, namun lebih merupakan bentuk edukasi tentang bencana dan akibat dari erupsi kepada masyarakat luas. Meski begitu, museum ini tetap memberikan dampak perekonomian yang baik bagi warga sekitar dengan banyaknya pengunjung dan kegiatan lava tour.

Setiap rombongan yang mengikuti lava tour, biasanya akan singgah di Museum Omahku Memoriku maupun Museum Sisa Hartaku, sebelum melanjutkan perjalanan. Sopir jip yang membawa kami, bukan sekadar sopir, namun juga pemandu yang piawai dalam menjelaskan bukti-bukti peristiwa yang ada di sekitar kami. Matahari terus bergerak ke tengah langit. Di sebelah utara sana, Gunung Merapi tampak gagah dan tenang di bawah langit biru, Awan putih tipis menyelimuti puncaknya. Saya dan rombongan mulai bergerak meninggalkan museum. Meninggalkan sisa-sisa keganasan erupsi Merapi. Tapi, bagi saya, meninggalkan benda-benda di museum itu, bukan berarti menanggalkan ingatan: Merapi tak pernah ingkar janji.

You Might Also Like

Enter Your Comments Here..