Matahari membakar Jogja siang itu. Saya sudah berjalan hampir tiga kilometer, menyusuri sepanjang jalan Adi Sucipto yang riuh oleh kendaraan. Punggung saya basah oleh keringat. Udara panas dan beban ransel di punggung membuat keringat lebih banyak merembes dari pori-pori kulit saya. Ini adalah ramadan pertama saya di Kota Pelajar ini. Dan perjalanan ini adalah mudik lebaran pertama saya sejak saya tinggal di Yogya untuk kuliah.

Kantong saya tidak banyak menyimpan uang. Sebatas ongkos pulang kampung yang sehari sebelumnya dipinjamkan Mbak Dafit, senior saya di sebuah organisasi mahasiswa. “Tidak usah dikembalikan,” katanya. Saya rasa, orang-orang baik di sekeliling saya adalah anugerah. Rezeki. Meskipun, terkadang justru merasa ewuh pakewuh, merasa betapa saya terlalu merepotkan banyak orang.

Matahari belum jauh beringsut dari tengah langit, ketika saya sampai di pertigaan Janti. Saya berdiri mengamati hilir mudik lalu lintas. Menunggu kendaraan yang  ingin saya tumpangi. Sudah berapa kali lampu lalu lintas bergantian menyala. Merah ke kuning ke hijau, lalu kembali ke kuning dan ke merah. Begitu seterusnya. Namun, saya masih bergeming. Hingga kesempatan itu datang, ketika lampu lalu lintas menyala merah, di depan saya sebuah mobil kendaraan bak terbuka berhenti. Spontan, saya melompat sambil berteriak, “pak numpang.” Pak sopir tidak merespon, tapi saya terlanjur berdiri di atas bak mobil.

Kendaraan itu melaju ke arah timur, menuju pinggiran Yogya. Angin menerpa tubuh saya yang mandi peluh. Segar. Lega rasanya. Saya membayangkan mobil yang saya tumpangi akan terus melaju sampai Kota Solo atau setidaknya Klaten. Lalu saya akan mencari tumpangan lain ke Salatiga. Tapi sial, mobil ini berbelok ke kiri, ke arah jalan lingkar utara begitu tiba di pertigaan Maguwoharjo. Serta merta saya terjun dari bak mobil yang saya tumpangi.

Itulah kali terakhir saya menebeng kendaraan bak terbuka. Cara yang sering saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Lewat  upaya inilah saya dan teman-teman Mapala kami bisa bepergian ke berbagai kota. Namun, kali ini saya memilih naik bus sebelum sampai di tujuan. Sebuah akhir yang tidak menggembirakan. Saya gagal menyelesaikan perjalanan mbonek saya.

Saya ingat, kali pertama saya menumpang mobil bak terbuka adalah menjelang akhir 2001. Ketika saya baru saja menyelesaikan pendidikan dasar mahasiswa pecinta alam di sebuah kampus kecil di Salatiga. Waktu itu, saya termasuk kelompok terakhir yang harus naik kendaraan umum karena mobil kampus sudah tidak muat.

Entah siapa yang mencetuskan ide. Beberapa anggota panitia yang tersisa sepakat untuk menumpang kendaraan bak terbuka. Saya sebagai anak baru, tentu saja, mau tidak mau ikut kehendak senior. Padahal, mencari tumpangan truk dari lereng Gunung Merbabu menuju Salatiga bukan hal yang mudah.

Tahun-tahun setelahnya, saya terbiasa mengacungkan jempol ke atas pada kendaraan yang lewat ketika bepergian. Tapi, saya dan teman-teman hanya berani mendompleng kendaraan bak terbuka karena kami anggap lebih ramah dibanding mobil lainnya. Untuk soal nebeng ini, kami punya istilah sendiri,  ada yang menyebut mbonek, ngebleg, atau ngebleng. Saya sendiri tidak tahu bagaimana istilah ini muncul.

Saya baru tahu beberapa tahun kemudian, bahwa apa yang saya lakukan merupakan hal yang biasa di belahan dunia lain. Bahkan, mbonek, yang dalam istilah Barat adalah hicthiking, sudah mulai berkembang sejak pertengahan 1920, sebagaimana Jurnal The Historian edisi Mei 1958 mencatat. Tren hitchhiking yang mulanya muncul di Amerika Serikat ini, kemudian menyebar ke Eropa dan berlanjut ke berbagai belahan dunia hingga saat ini. Alih-alih punah, sekarang hitchhiking masih merupakan hal lumrah di antara para pejalan. Malah, di Eropa berlangsung berbagai festival dan kegiatan untuk merayakannya.   

Bagi saya pribadi, yang masih jauh dari aman untuk persoalan keuangan, mbonek adalah cara hemat melakukan perjalanan. Berhemat dalam arti yang sesungguhnya karena memang saya benar-benar tidak punya uang.

Dalam catatan saya, selama kurun waktu enam tahun sejak selesai pendidikan Mapala di tahun 2001, saya telah menyinggahi berbagai kota dengan cara mbonek. Mulai dari Kudus, Semarang, Wonosobo, Batang, Pekalongan, Solo, Boyolali, Klaten, Yogya dan kota lainnya. Banyak hal yang saya alami sepanjang perjalanan tersebut. Pengalaman yang menurut saya lebih banyak getirnya dibanding manisnya.

Pernah seorang sopir memaki-maki karena kami langsung naik ke bak truk sebelum ia izinkan. Kadang, kami harus menunggu berjam-jam jika tak juga memperoleh tumpangan. Bahkan, di waktu lain terpaksa berjalan beberapa kilometer demi mencari tempat yang tepat untuk mencari tebengan. Dan, yang paling sering adalah, kendaraan melaju begitu saja ketika kami mengacungkan jempol memohon tumpangan.

Di luar kesulitan yang saya dan teman-teman hadapi selama di jalan, kami juga menerima kebaikan orang-orang yang kami temui. Suatu ketika, kami terdampar di Klaten sepulang dari acara Mapala di sebuah kampus di Yogya. Kendaraan yang kami tumpangi ternyata berbelok mejauh dari jalan utama Yogyakarta-Solo. Perjalanan kami terhenti, sementara senja mulai turun. Kami berdiri menunggu tebengan di depan warung di pinggir jalan besar. Waktu itu saya berlima, dan dua di antaranya adalah perempuan.

Di sekeliling kami, lampu-lampu mulai menyala berkilauan tanda siang sudah berlalu. Magrib baru saja lewat. Di bawah sorot lampu jalanan kami menanti kendaraan dengan resah.

Pemilik warung yang memperhatikan kami sedari kami turun dari mobil, mengajak ngobrol dua teman saya yang menunggu di depan warung. Mungki bertanya hendak kemana dan naik apa. Tak dinyana, pemilik warung tersebut memberi kami ongkos untuk pulang.

Beberapa tahun selepas perstiwa itu, saya tak akan lupa menoleh ke warung itu ketika melintasinya ketika pulang atau pergi ke Yogya. Setiap itu pula saya selalu teringat kebaikan si pemilik warung. Begitulah, kebaikan manusia tak akan luput dari catatan orang lain.

Ada kalanya saya dan teman-teman Mapala melakukan perjalanan secara spontan. Begitu saja tanpa banyak syarat dan rencana. Ide dan arah yang kami tuju muncul ketika kami sudah menggendong ransel dan melangkahkan kaki. Tampaknya, ini bertentangan dengan konsep dunia modern, dimana segala sesuatu harus terukur, terencana, menghitung resiko, dan hal-hal rumit yang lain. Tapi, toh pada akhirnya, entah kami sadari atau tidak, kami memperoleh sesuatu. Meskipun dalam bentuk yang teramat abstrak. Misalnya, tentang ketabahan, sisi baik manusia, dan semangat menyelesaikan apa yang telah kami mulai.

Suatu ketika, di sebuah sore yang biasa, saya menemukan Penthul dan Tholeng, dua senior saya di Mapala sedang berkemas. Satu ransel besar yang biasa kamu gunakan untuk pendakian sudah siap memuat barang mereka.

“Mau ke mana?” Tanya saya. “Mau ikut nggak?” Bukannya menjawab mereka malah balik bertanya. “Tapi, ke mana dulu?” Saya masih penasaran. “Pokoknya kalau mau ikut, ayo!” Jawab Penthul menantang.

Beberapa menit selanjutnya, saya sudah bergabung dengan mereka. Berdiri di perempatan dan melompat ke bak truk ketika lampu merah menyala. Tujuan kami adalah ke Solo. Saya tak ingat lagi berapa kali kami berganti tumpangan hingga akhirnya kami melompat turun dari kendaraan di bawah gapura besar bertuliskan “Universitas Muhammadiyah Surakarta”. Kami lalu masuk ke kampus itu, menuju sekretariat Mapala UMS ketika magrib hampir menjelang.

Kami berbincang banyak hal tentang proyek pembuatan fasilitas wall climbing yang ingin kami bangun dan masalah-masalah organisasi. Malam turun terasa lebih cepat. Waktu isya sudah beberapa jam berlalu. Kami pamit ke tuan rumah. Tawaran menginap di sekretariat Mapala UMS ditolak secara halus oleh Penthul. Padahal ia sendiri tahu, kami belum punya tempat bermalam.

Kami menghabiskan beberapa waktu di warung tenda depan UMS. Orang solo dan sekitarnya menyebutnya ‘hik’, sementara di masyarakat Yogya menyebut angkringan. Cahaya lampu yang sedikit remang menyinari “nasi kucing” yang berbaris rapi, gorengan, sate usus, ceker ayam, dan makanan lainnya. Perut saya langsung bergolak demi melihat hidangan di atas gerobak itu.

Warung hik bukan sekadar tempat untuk makan. Berbagai persoalan mengemuka di bawah tenda dengan remang lampu ini. Menjadi obrolan yang mengalir di antara pengunjung yang tampak akrab meskipun kadang kadang baru kenal. Berbagai masalah muncul, mulai dari masalah politik, kesulitan hidup, hingga persoalan pribadi. Tak jarang kebijaksanaan dan filsalat tentang kehidupan juga mengemuka di tempat ini.

Hampir larut malam. Tapi, kami juga tak punya tempat menginap. Teman saya agak menyesal mengapa kami menolak ajakan menginap. Mau kembali ka Mapala UMS, malu rasanya. Akhirnya teman saya punya ide brilian: kami akan tidur di jembatan penyeberangan depan UMS! Sebuah keputusan yang bagi sebagian orang adalah ide gila. Saya sudah biasa tidur di bawah langit di tempat berkemah. Tetapi, tidur di jembatan penyeberangan?

Saya tidak bisa tidur nyenyak. Suara truk dan bus yang melaju di bawah sana seperti menusuk telinga. Belum lagi angin yang berhembus bersama laju kencang kendaraan-kendaraan itu membuat dingin malam  terasa menusuk tulang. Kami tidur beralas matras yang biasa kami bawa berkembah. Tanpa selimut. Apalagi bantal.

Saya bangun dengan mata berat. Kami harus berkemas pergi sebelum orang-orang lewat di jembatan penyeberangan ini. Kami melanjutkan perjalanan ke Yogya,  setelah berdiskusi sebentar.

Perjalanan kami kali ini juga tak begitu lancar. Harus harus berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain karena tak menemukan mobil yang langsung menuju Yogya. Hingga akhirnya kami turun di suatu tempat entah di mana di Klaten. Kami istirahat di emper toko yang belum buka. Menunggu tumpangan untuk melanjutkan pengembaraan kami ke Yogya. Rasa bosan mulai mendera saya, begitu juga Penthul dan Tholeng. Barangkali benar kata banyak orang, menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan.

Agaknya kami tak bisa lebih lama berharap mendapat tumpangan pagi ini. Kami jauh dari pom bensin, perempatan, maupun pasar yang berarti tidak ada kendaraan yang berhenti tanpa alasan. Matahari mulai mendaki cakrawala. Di tengah rasa lelah dan frustasi karena tak ada tumpangan, kami memutuskan kembali pulang.

Suatu ketika paman membelikan saya sepeda. Waktu itu saya belum lulus sekolah dasar. Sepeda itu berwarna hitam dengan dua stang atas dan bawah. Sepeda bermerk  Akibo itu tampak kokoh dan gagah. Sejak hari itu, saya mengayuh sepeda saya hingga ke tempat yang jauh. Saya membawanya menyusuri pematang-pematang sawah ketika sore tiba. Saya pernah menempuh perjalanan empat belas kilometer dengan sepeda itu. Jarak terjauh yang saya tempuh dengan bersepeda.  

Kalau tidak bermain sepeda, saya akan mencari kesenangan dengan permainan yang lain. Berenang di sungai setelah puas bermain seluncuran di jurang pinggir sungai. Bermain ke hutan mencari daun cincau untuk dimasak.

Saya tumbuh pada masa di mana hanya ada satu channel siaran televisi yang tanpa warna lain selain hitam, putih dan kelabu. Di desa saya hanya dua keluarga yang memiliki televisi yang gambarnya bisa menciut ke tengah layar ketika accu sudah kehabisan daya. Saya jauh dari zaman telepon pintar, internet, gim, komputer dan dunia anak-anak sekarang akrabi.

Dunia kecil saya dekat dengan sawah, sungai, hutan, dan lumpur. Itulah petualangan masa kecil saya. Petualangan, yang, meskipun tak seheroik cerita-cerita “Empat Sekawan” karangan Enid Blyton, begitu kuat tersimpan dalam ingatan saya.

Barangkali tiap orang akan mengalami petualangannya sendiri.  Menjadi pengembara bagi perjalanan kehidupannya sendiri. Sampai manakah perjalanan hidup manusia, tak ada yang tahu selain Tuhan, Sang penentu dan pengatur.

Kini, ketika banyak hal telah berlalu, dan banyak hal telah saya alami, rekaman-rekaman petualangan itu adalah kawan bagi jiwa saya. Irama yang mengiringi langkah kaki saya untuk terus berjalan. Dan seluruh perjalanan itu, yang terkadang menyeruak di antara lipatan-lipatan ingatan, saya anggap sebagai sejarah kecil tentang kehidupan. [.]

Foto: Atlas Green dari Unsplash

You Might Also Like

Comments ( 2 )

  • Soleh

    Tulisanya keren😄. Saya tunggu tulisan2 seperti ini selanjutnya😊

    • Mujibur Rohman

      Terima kasih, kawan. Tunggu cerita-cerita selanjutnya, ya 🙂

Enter Your Comments Here..