Tubuh saya gemetar, hawa dingin pegunungan menusuk hingga ke tulang. Beberapa kali saya mencoba mengatupkan kelopak mata, berusaha untuk tidur barang sejenak. Tapi, udara dingin di tempat ini sungguh keterlaluan. Belum genap sepuluh menit saya terlelap, suara salak anjing mengejutkan saya. Suaranya keras, hanya beberapa meter dari tempat saya merebahkan raga. Sial! Ngapain sih, anjing menggonggong di tempat sesunyi dan sedingin ini?

Saya sedang beristirahat di sebuah musala, di pos pintu masuk ke kawasan wisata Kawah Putih, Ciwidey, Bandung. Di sebelah saya Om Prapto, Mas Fajar, Mas Tris dan Juhasib tidur berjajar-jajar seperti ikan pepes. Tak ada pengunjung lain di musala ini, hanya mobil kami yang terparkir di sebelahnya. Jarum panjang jam di dinding menunjuk ke angka tujuh, sementara jarum pendeknya menunjuk ke angka tiga. Subuh masih beberapa jam lagi, apalagi saat terbit matahari. Dinginnya udara musim kemarau di kawasan Ciwidey membuat kami memilih berhenti di pintu masuk, daripada melanjutkan perjalanan. Tujuan kami, puncak Gunung Patuha, masih berjarak beberapa kilometer di atas sana. Kami mengulur waktu beberapa jenak untuk mendaki ke sana.

Ini adalah akhir pekan ketiga bulan September. Pekan yang masih kering akibat kemarau panjang. Tahun ini musim kemarau lebih panjang daripada tahun sebelumnya. Kemarau yang mengakibatkan sumber-sumber air dan sumur mengering. Kemarau yang juga memunculkan asap dan kebakaran di mana-mana. Media massa dan media social riuah oleh berita tentang kebakaran hutan dan lahan. Entah yang terbakar maupun yang sengaja dibakar dalam rangka membuka lahan untuk perkebunan. Lalu para petugas akan berjibaku dengan api yang seperti tak habis-habis. Api melalap berhektar-hektar lahan dan hutan. Negeri ini mengekspor asap ke negeri tetangga.

Dari semua itu, rakyat kebanyakanlah yang menjadi korban. Hendak ke mana mereka mengungsi, sementara tanah air mereka hanya satu? Barangkali pemilik lahan yang terbakar itu bisa duduk tenang di ruangan berpenyejuk dan penyegar udara. Sementara warga kebanyakan yang menjadi korban.

Saya beruntung masih bisa menghirup udara segar hari ini, meskipun udara dingin ini terasa menusuk tak henti-henti.

Keindahan Sunrise di Atas Kawah Putih Ciwidey
Gambar pegunungan dan bukit-bukit di sekitar Kawh Putih yang tampak berlapis-lapis

Teman-teman mulai bersiap. Saya berwudhu untuk persiapan shalat setiba di atas nanti. Air yang mengucur dari kran musala terasa seperti es yang mencair. Jari-jemariku berasa ngilu.

Mobil yang kami tumpangi segera melaju menembus kegelapan. Beberapa puluh meter selepas pintu gerbang, jalanan mulai buruk. Aspal yang mengelupas menyisakan bebatuan dan kerikil. Ban mobil yang beradu dengan kerikil-kerikil itu meninggalkan suara gemeretak. Kami menembus hutan milik Perhutani di kawasan Gunung Patuha. Lewat kaca jendela saya hanya melihat warna kelam di kanan dan kiri mobil. Kami melewati dini hari yang sunyi. Di depan kami tak tak kendaraan satu pun terlihat, pun yang menyusul di belakang kami.

Mobil yang kami kendarai terus mendaki. Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke Kawah Putih Ciwidey. Sebenarnya, saya sudah lama berkeinginan memotret pemandangan matahari terbit dari Sunan Ibu. Namun, kurangnya informasi tentang lokasi ini membuat saya masih menunda keinginan rencana itu. Dan pagi ini saya baru mengetahui, perjalanan ke Sunan Ibu bukan perkara mudah jika sendirian di malam hari. Naik motor sendiri menembus hutan di malam gulita dengan kondisi jalan mendaki dan aspal terkelupas? Sepertinya ada pilihan yang lebih baik daripada ini.

Kawah Putih Ciwidey merupakan kawah bekas letusan Gunung Patuha. Kawah ini berada di ketinggian 2.430 meter di atas permukaan laut. Gunung Patuha sendiri merupakan salah satu gunung berapi di Jawa yang statusnya saat ini pasif sejak aktivitas terakhirnya di tahun 1600. Gunung ini mengalami letusan dua kali pada abad ke-10 dan ke-13. Dua letusan ini membentuk dua kawah yang berbeda. Erupsi pertama membentuk kawah di sebelah barat yang bernama Kawah Saat. Letusan kedua menghasilkan kawah indah dengan luas lebih dari tiga ratus meter yang sekarang berjulukan Kawah Putih.

Sejak otoritas setempat membuka kawasan Kawah Putih untuk publik pada 1987, destinasi wisata ini segera menjadi primadona bagi wisatawan hingga sekarang. Keunikan kawah ini adalah air kawahnya yang berwarna putih kehijauan atau kebiruan. Konsentrasi asam dan kandungan belerang dalam air bereaksi dengan suhu dan udara mengubah warna air menjadi putih, kebiruan, maupun putih kehijauan. Kawah ini juga menguarkan aroma belerang yang menyesakkan napas.

Kita mesti berterima kasih kepada Franz Wilhelm Junghuhn yang justru penasaran dengan cerita masyarakat sekitar akan keangkeran Gunung Patuha setelah erupsi kedua. Banyak burung yang jatuh dan mati ketika melintas di atas gunung ini. Ini membuat nalar ilmiah Junghuhn tak bisa diam. Pada tahun 1837, Junghuhn, yang tergila-gila pada pengetahuan ini, mendaki Gunung Patuha dan menemukan kawah berair asam ini ini untuk pertama kali.

Junghuhn adalah seorang ahli botani dan geologi berkebangsaan Jerman yang kemudian menjadi warga negara Belanda. Ia bergabung dengan Tentara Kolonial di Hindia Belanda sebagai dokter medis setelah melarikan diri dari berbagai kasus dan persoalan yang menimpanya. Pada Oktober 1835, Junghuhn menjejakkan kaki di Batavia dan meninggal pada tahun 1864 di tempat tinggalnya di Lembang akibat terkena serangan amoeba disentry.

Junghuhn telah banyak menghasilkan karya dari kegemarannya meneliti, blusukan hingga jauh ke dalam hutan, dan menyambangi puncak-puncak gunung. Ia bukan hanya seorang intelektual dan petualang, namun juga seorang pelukis yang terampil. Ia memetakan gunung-gunung di Jawa, membuat topografinya serta melukis keindahannya. Berbagai catatan, sampel dan gambar itu ia rangkum dalam sebuah magnum opus setebal 2.600 halaman yang ia beri judul Java, Zijne Gedaante, Zijne Plantentooi en Inwendige Bouw. Junghuhn menyusun karya yang monumental ini selama satu tahun kemudian menerbitkannya di Den Haag, Belanda, pada tahun 1853. [Bacaan lebih lanjut tentang Junghuhn].

Kawah Putih Ciwidey di Musim Kemarau

Waktu subuh sudah tiba begitu kami sampai di pintu masuk menuju Sunan Ibu. Parkiran sepi, tak ada kendaraan lain selain mobil kami. Bergegas kami mempersiapkan peralatan fotografi, lalu menembus rimbunan pohon, mendaki ke Sunan Ibu. Kami melewati jalan setapak yang sepenuhnya sudah dibangun dengan konblok. Sinar senter yang kami bawa menjadi pemandu langkah kami. Napas kami memburu seiring langkah kaki yang semakin cepat. Kami berkejaran dengan waktu, belum lagi jalur pendakian ke Sunan Ibu yang lumayan terjal membuat napas kami ngos-ngosan.

Sampai Puncak Sunan Ibu, matahari sepertinya sudah hendak terbit. Dengan segera saya memasang kamera ke tripod. Sementara teman saya, Mas Juasib, memberi petunjuk lokasi yang pas untuk memotret matahari terbit pagi itu. Sementara teman-teman saya sibuk dengan kameranya, saya mencuri waktu untuk menggelar sajadah. Badan saya menggigil diterpa angin gunung.

Bersicepat saya menyusul teman-teman yang sudah mulai mengambil gambar. Saya memasang tripod, mengatur set kamera, memasang filter, dan mulai memotret. Saya mulai melihat semburat warna kuning kemerahan di arah timur. Saya memencet tombol rana, mengecek hasil foto, mengatur komposisi, mengatur set kamera dan memencet tombol kamera lagi. Begitu hingga beberapa kali, sampai akhirnya sinar matahari muncul menerobos dahan-dahan pohon cantigi. Dinding kawah di sisi utara tampak memerah tertimpa sinar matahari. Dahan dan ranting pohon cantigi menjulur ke atas kawah. Daun-daun cantigi rontok oleh uap asam dari kawah di bawah sana. Pohon-pohon yang meranggas ini justru membuat foto semakin menarik.

Beberapa waktu, ketika saya asyik dengan kamera, di sebelah kanan terdengar canda tawa kelompok pengunjung lain. Rupanya ada rombongan yang menyusul kemari. Kata pemandu wisata yang mengantar mereka, rombongan ini adalah karyawan sebuah perusahaan di Jakarta. Kami pindah ke titik tempat mereka berfoto. Bergantian tempat dengan mereka. Saya mengambil gambar beberapa kali dengan beberapa variasi kompoisisi dan sudut pandang.

Sekarang matahari sudah tampak merekah. Sinarnya kuningnya menerpa dedaunan dan dahan-dahan. Di kejauhan tampak lapis-lapis gunung dan bukit. Di bawah sana, kawah putih hanya menyisakan sedikit air karena kemarau. Angin tetap berhembus sedikit kencang, namun saya sudah tidak menggigil kedinginan seperti sebelumnya. Puas memotret, kami bersepakat untuk turun, pindah ke shelter bawah lalu menyelesaikan kegiatan kami.

Lereng bukit di sebelah barat daya puncak Gunung Patuha
Panduan Pejalan

Pengunjung harus lapor ke pos penjagaan untuk masuk ke kawasan ini. Karena loket retribusi belum buka, biasanya pengunjung membeli tiket ketika turun dengan menyerahkan kartu identitas kepada penjaga sebagai jaminan.

Tiket masuk ke kawasan Ciwidey berbeda dengan tiket ke puncak Sunan Ibu, sehingga harus bayar dua tiket.

Biaya tiket ke Sunan Ibu adalah:

Biaya parkir di pintu masuk ke Sunan Ibu: Rp. 150.000

Biaya tiket ke Sunan Ibu: Rp. 10.000

Biaya tiket ke Kawah Putih Ciwidey: Rp. 20.000

Jangan lupa jaket yang tebal, kaos tangan, dan kupluk supaya tetap hangat diterpa angin dingin Gunung Patuha.

Tips memotret di Sunan Ibu:

Peralatan: kamera, tripod yang kokoh, lensa sudut lebar (wide angle lens), lensa tele dan filter CPL, GND maupun ND, dan senter. Bawa saja kalau ada peralatan yang lain yang diperlukan.

Karena kondisi tempat memotret yang sempit dan menghadap jurang, Anda harus hati-hati dan harus pandai-pandai mengatur komposisi.

Peta Sunan Ibu

You Might Also Like

Enter Your Comments Here..