Gulita masih melingkupi puncak bukit ketika roda kendaraan kami menapaki parkiran. Kabut tebal yang mengepung kami sejak di kaki bukit, masih mengambang menyelimuti lereng dan lembah. Saya menghambur dari mobil bersama beberapa teman yang lain. Hawa dingin serta-merta menyergap, menusuk hingga menembus jaket yang saya pakai. Saya berjalan mengitari lahan parkir yang hanya beberapa meter itu. Gerimis tipis sesekali turun bersama angin yang terus berdesir. Saya tidak yakin, apakah rintik ini gerimis atau kabut yang terbawa angin. Di tengah pekat subuh itu, kami adalah pengunjung yang pertama sampai di bukit ini, Bukit Panyaweuyan, Argapura, Kabupaten Majalengka.

Saya sudah lama memasukkan Majalengka ke dalam destinasi trip yang akan saya sambangi. Namun, baru kali ini saya berkesempatan melawat daerah yang berjulukan Kota Angin ini. Kebetulan, beberapa hari sebelum keberangkatan, Bintang Mas bekerjasama dengan Ari Amphibia sebagai penyelenggara trip ini, mengadakan giveway. Rupanya semesta mendukung keinginan saya, Bintang Mas mengontak dan bertanya apakah saya bisa berangkat atau tidak. Tentu saja saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Siapa yang kuasa menolak trip gratis bersama fotografer idola?

Baca juga: Sunan Ibu, Memotret Keindahan Sunrise di Atas Kawah Putih Ciwidey

Hujan deras mengguyur Jakarta beberapa jam sebelum berangkat. Saya yang sudah bersiap sedari tadi, hanya mondar-mandir di dalam kamar. Khawatir kalau hujan belum berhenti, sementara saya harus sampai di Tebet sebagai titik kumpul pukul sebelas malam. Hujan berhenti akhirnya. Tanpa menunggu lama memesan taksi daring menuju Tebet.

Gerimis mengiring keberangkatan kami. Mobil yang kami tumpangi segera melaju di jalan tol yang mengarah ke luar Jakarta. Saya memandang ke luar jendela. Gedung-gedung beraneka tingkat yang memadati sepanjang jalan Gatot Subroto tampak berlari ke arah belakang kami. Beton-beton inilah yang turut menopang perputaran roda perekonomian Jakarta. Gedung-gedung seperti inilah yang menjadi magnet bagi orang dari berbagai penjuru daerah. Lalu Jakarta pun padat oleh gedung, kendaraan, dan manusia. Lalu orang-orang merutuki masalah-masalah yang muncul kemudian, mulai dari banjir hingga kemacetan. Tapi, toh, meninggalkan Jakarta yang berlimpah masalah ini bukan hal yang mudah, bukan?

Mobil kami terus melaju melewati tol Cikampek dan terus melaju ke arah tol Cikopo-Palimanan. Saya terbangun ketika mobil berbelok ka area peristirahatan di Subang. Rupanya di sini gerimis masih mengguyur. Sejurus kemudian derai tawa dan canda kami menggema mengalahkan suara hujan. Di hadapan kami, uap minuman panas mengepul. Obrolan pun mengalir di antara kami. Beberapa orang di antara kami memang sudah saling kenal sebelumnya. Begitulah lingkar pertemanan dalam fotografi, terutama ketika kita tertarik dengan satu genre yang sama. Kita akan sering bertemu dengan orang yang sama di berbagai acara maupun trip fotografi.

Jarak yang akan kami tempuh terpaut dua puluh kilometer lagi. Kami sudah memasuki pinggir ibu kota Kabupaten Majalengka. Di sini pun sisa air hujan masih membasahi jalanan. Subuh masih sekitar satu setengah jam kemudian, ketika kami berhenti di sebuah swalayan. Ada satu mobil plat Jakarta yang sudah terparkir lebih dulu. Mungkin mereka juga rombongan wisatawan. Minimarket ini menjadi perhentian terakhir kami sebelum menanjak ke kaki Gunung Ciremai.  

Bukit Panyaweuyan yang kami datangi, sebenarnya adalah lahan pertanian bawang dan sayuran. Lahan pertanian ini menghampar di kaki dan lereng sebelah barat Gunung Ciremai dengan kemiringin antara 25 sampai 40 derajat. Karena berada di lereng yang curam, untuk mencegah longsor para petani membentuk lahan pertanian mereka berundak-undak. Bentuk pertanian yang berundak-undak inilah yang kemudian menjadi daya tarik Bukit Panyaweuyan.

Terasering Panyaweuyan masuk di wilayah Dusun Cibuluh, Desa Tejamulya, Kecamatan Argapura. Perkebunan bawang ini membentang di ketinggian antara 800 hingga 1000 meter di atas permukaan laut. Puncak Panyaweuyan berada di lereng barat Gunung Ciremai.  Di arah selatan hingga barat berjajar gunung-gemunung dan bukit. Kita bisa melihat puncak dan punggung bukit dan gunung ini berlapis-lapis nan elok untuk kita foto dengan latar depan perkebunan bawang.

Di antara para kami para fotografer, terasering Panyaweuyan sudah sohor sejak beberapa tahun silam. Biasanya para juru foto ini berkunjung dan memotret pada Bulan Desember atau pun Januari, ketika daun-daun bawang dan sayuran sedang lebat-lebatnya sebelum memasuki masa panen. Sore atau pagi adalah waktu yang tepat untuk memotret kebun bawang ini. Kedua waktu ini, sinar matahari lembut meyinari lapisan-lapisan bukit dan daun-daun bawag. Sinar sang surya ini lantas membentuk kontras gelap dan terang antara bukit dan lembah, sehingga membuat pemandangan menjadi dramatis dan berdimensi.

Kegelapan yang sebelumnya menyelimuti lereng dan ngarai ini perlahan buyar. Beberapa rombongan fotografer satu persatu mulai berdatangan mengisi lahan parkir. Sayangnya, kabut masih pekat di bawah sana. Hamparan hijau perkebunan timbul tenggelam oleh kabut yang terbawa angin. Rinai gerimis masih turun sesekali menambah dingin udara pagi di bukit ini. Saya keluar-masuk dari mobil karena gerimis.

Di kejauhan, tampak barisan warung-warung yang dengan kursi dan meja yang masih kosong. Kami yang sedari subuh tadi sudah membayangkan mie instan hangat, agaknya mesti menunggu sampai pemilik warung tiba. Ada beberapa warung berjajar di pinggir jalan di bawah puncak bukit. Berbagai bungkus minuman hangat berbaris rapi di gantungan. Sedangkan mie instan, gorengan, air putih kemasan dan berbagai makanan lainnya berjajar memenuhi meja. Di udara sedingin ini, mie instan, gorengan, dan minuman panas menjadi hidangan favorit.

Berseberangan dengan warung, terdapat toilet dan mushala yang sayangnya masih terkunci sebelum warung-warung itu buka. Mungkin kita harus jongkok di rerimbun dedaun bawang jika ingin buang hajat. Di sebelah warung terdapat jalan kecil menuju puncak bukit. Untuk naik ke puncak bukit itu, pengunjung cukup membayar tiket seharga lima ribu rupiah. Dari puncak bukit kita bisa memandang hamparan kebun bawang lebih luas lagi.

Semakin siang, semakin banyak kendaraan memadati parkiran. Saya menyusul Om Haryanto yang sudah berkutat dengan kameranya sedari tadi. Sebuah kamera Fujifilm medium format yang harganya puluhan kali harga kamera saya. Saya mengarahkan kamera ke arah hamparan kebun bawang yang masih diliputi kabut. Beberapa teman pun akhirnya mengeluarkan kamera mereka.

Sejurus kemudian kami sudah beraksi dengan kamera masing-masing. Untuk memotret kebun bawang ini, kami lebih sering menggunakan lensa tele untuk mendekatkan obyek yang kami foto. Kami beringsut di selingkup mobil kami yang terparkir. Mengarahkan kamera di arah timur, selatan, dan barat. Kami juga menyewa “model” petani lokal untuk bergaya. Tugas model tersebut adalah berpura-pura bekerja di antara pematang kebun bawang. Model kami mengenakan baju merah kontras dengan alam sekitar, memakai caping dan menggendong tangki penyemprot hama.

Beberapa kali gerimis menghentikan kegiatan kami. Matahari hanya beberapa menit muncul dari balik Gunung Ciremai, sinarnya menyiram punggung gunung dan berusaha menembus awan tebal di atasnya. Di bawah sana, kabut tebal menyapu permukaan perkebunan. Lensa kami tak mampu menembus warna putih di bawah sana. Tak ada sinar matahari yang menciptakan kontras yang dramatis pagi ini.

Lama-kelamaan kami bosan karena variasi foto yang itu-itu saja. Tanpa sinar matahari, lanskap yang kami foto terasa tidak terlalu menarik. Apalagi kabut dan gerimis masih menerpa sesekali. Untungnya aplikasi Tik-Tok mampu mengembalikan keceriaan kami yang surut di hadapan kabut. Pagi itu kami hanya menarikan dua varian tarian Tik-Tok. Akan tetapi, harus berkali-kali mengulang karena salah melulu. Anda bisa membayangkan fotografer senior Om Haryanto dikerjain untuk ikut bermain Tik-Tok?

Baca juga: Fujiguys Indonesia Xplore Sawarna 3, Perjalanan Seru bersama Fujiguys

Om Ari Amphibia menginstrusikan kami untuk bersiap turun. Kami bersepakat untuk mengubah rencana destinasi dan kembali ke bukit ini keesokan harinya. Mobil kami perlahan menuruni bukit  menuju Kota Majalengka dengan harus esktra hati-hati. Jalan menuju Panyaweuyan hanya cukup untuk satu mobil. Sehingga, mobil kami atau mobil yang ada di depan kami harus minggir ke luar jalan ketika berpapasan. Ditambah jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan merupakan tanjakan dengan sisi kanan dan kiri jurang dan tebing.

Pada kunjungan kedua, kami lebih beruntung karena langit cerah. Dan kembali, kami menjadi pengunjung pertama yang sampai di parkiran Terasering Panyaweuyan. Udara tetap sedingin kemarin, tapi kali ini sudah tak lagi bercampur air dan kabut. Saya melompat keluar mengikuti beberapa teman yang lain. Suasana masih terlalu bagi kamera saya gelap untuk mulai memotret. Akhirnya, saya hanya mondar-mandir di seputar mobil. Kemudian masuk dan duduk kembali di dalam mobil demi menghindar dari terpaan angin.

Saya keluar lagi dari mobil ketika beberapa teman mulai sibuk menyetel kamera. Saya berdiri di samping kanan kendaraan, menatap hamparan hijau lembah dan bukit yang berangsur tampak nyata.  Saya mengambil beberapa foto dengan obyek barisan bukit yang berada jauh di bawah sana. Di bawahnya, tampak rumah-rumah dengan lampu-lampu yang masih berpijar.

Sampai beberapa jenak saya berkutat dengan kamera, pun dengan yang lain. Pada kunjungan kedua ini, tak ada lagi kabut tebal menutupi areal perkebunan. Namun, ternyata hingga menjelang siang, sinar matahari sepertinya begitu malu menyinari perbukitan yang kami foto. Hingga kami kembali, saya hanya mendapatkan 3 frame foto dengan cahaya matahari dari samping di waktu yang tak lebih dari lima menit. Setelah itu, mendung tebal mengambang di punggung Ciremai, bahkan sempat gerimis beberapa saat hingga matahari sudah naik terlalu tinggi.

Saya menutup pagi di bukit Panyaweuyan dengan semangkok mie instan, segelas susu jahe, dan bakwan. Kami harus segera turun demi menghindari berpapasan dengan kendaran yang naik. Kami menyelesaikan lawatan kami ke Majalengka dengan hati yang riang. Biarpun cuaca pagi tak sebagus yang kami inginkan. Kota Angin masih menyimpan banyak destinasi wisata dan bentang alam yang menawan. Mungkin di kesempatan yang lain, di waktu yang lebih baik, saya akan berkunjung ke Majalengka untuk mengekalkan keindahannya.

You Might Also Like

Enter Your Comments Here..